Jakarta

Jakarta

Hal yang harus dilakukan - umum

Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta) adalah ibu kota negara dan kota terbesar di Indonesia. Jakarta merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki status setingkat provinsi. Jakarta terletak di pesisir bagian barat laut Pulau Jawa. Dahulu pernah dikenal dengan beberapa nama di antaranya Sunda Kelapa, Jayakarta, dan Batavia. Di dunia internasional Jakarta juga mempunyai julukan J-Town,[9] atau lebih populer lagi The Big Durian karena dianggap kota yang sebanding New York City (Big Apple) di Indonesia.

Jakarta memiliki luas sekitar 661,52 km² (lautan: 6.977,5 km²), dengan penduduk berjumlah 10.187.595 jiwa (2011). Wilayah metropolitan Jakarta (Jabodetabek) yang berpenduduk sekitar 28 juta jiwa,[8] merupakan metropolitan terbesar di Asia Tenggara atau urutan kedua di dunia.

Sebagai pusat bisnis, politik, dan kebudayaan, Jakarta merupakan tempat berdirinya kantor-kantor pusat BUMN, perusahaan swasta, dan perusahaan asing. Kota ini juga menjadi tempat kedudukan lembaga-lembaga pemerintahan dan kantor sekretariat ASEAN. Jakarta dilayani oleh dua bandar udara, yakni Bandara Soekarno–Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma, serta tiga pelabuhan laut di Tanjung Priok, Sunda Kelapa, dan Ancol.

PopulasiTidak dibutuhkan visa
BahasaIndonesia, Inggris
Mata UangRp (Rupiah)
Luas Wilayah (km2)661,52

Tujuan Wisata

alam-kehidupan-jakartaKota Jakarta terkenal sebagai ibukota negara Indonesia, dimana merupakan kota metropolitan yang identik dengan bangunan gedung – gedung yang tinggi. Jika kita berbicara tentang destinasi wisata alam di kota Jakarta, apakah yang ada di benak pikiran kita?

Wajar anda berpikir seperti itu karena Jakarta memang terkenal sebagai pusat bisnis, kemacetannya dan banjir yang hampir tiap tahun melandanya.

Nah, bagi anda yang sudah bosan berwisata di situ-situ saja seperti Monas, mall maupun pusat perbelanjaan, sepertinya anda perlu melirik alternatif lain.

1. Kebun Binatang Ragunan

Tempat wisata alam di Jakarta selanjutnya adalah Kebun Binatang Ragunan.Berdiri sejak tahun 1864 dengan luas lahan mencapai 140 hektar, Kebun Binatang Ragunan ini mempunyai koleksi 295 spesies dan 4040 spesimen.Kebun Binatang Ragunan juga tercatat sebagai kebun binatang pertama di Indonesia yang dulu bernama Planten En Dierentuin yang berarti Tanaman dan Kebun Binatang.Dahulu, kebun binatang ini berada di daerah Menteng, Jakarta Pusat dan hanya mempunyai luas sekitar 10 hektar. Pada tahun 1949, kebun binatang ini berubah nama lagi menjadi Kebun Binatang Cikini.

Barulah pada tahun 1969, kebun binatang ini kembali dipindahkan ke kawasan Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan dan berganti nama menjadi Kebun Binatang Ragunan yang hingga kini kita kenal.Pada tahun 2015, Kebun Binatang Ragunan ini pernah ditutup selama kurang lebih 3 minggu karena ada beberapa hewan di kebun binatang ini yang terinsfeksi flu burung. Namun itu dahulu, sekarang sih aman-aman saja.

Pokoknya sangat menyenangkan berwisata ke Kebun Binatang Ragunan ini apalagi membawa anak-anak yang tentu akan belajar mengenali jenis-jenis hewan dan cara merawatnya.Di samping itu, Kebun Binatang Ragunan ini masuk kategori salah satu tempat wisata di Jakarta yang murah meriah.

2. Taman Impian Jaya Ancol

Siapa sih yang tidak kenal dengan objek wisata ini. Pastinya anda yang berada di sekitar Jabodetabek sudah sering mendengar nama Taman Jaya Impian Ancol.Kami memasukkan objek wisata ini ke salah satu tempat wisata alam di Jakarta karena memang Taman Impian Jaya Ancol ini menggabungkan wisata alam dan juga buatan.Dari mulai pertamakali di buka hingga kini Taman Impian Jaya Ancol selalu rame dikunjungi khususnya pada akhir pekan, Galaxy Waterpark Jogja saja sepertinya masih kalah rame.

Taman Impian Jaya Ancol ini begitu rame dikunjungi karena memadukan wisata alam, unsur seni dan juga budaya yang dikemas sangat baik untuk menarik minat masyarakat untuk datang berwisata ke tempat ini.Banyak hal yang bisa anda lakukan di sini, mulai dari bermain di pantainya yang jumlahnya bukan hanya satu namun pantai di objek wisata ini terbagi lima, pantai indah, ria, elok, festival dan carnaval beach club.Panjang pantai keseluruhan sekitar 5 km atau 1/3 panjang Pantai Tanjung Lesung yang ada di Kabupaten Pandeglang, Banten.

Tak hanya itu, anda juga bisa mengajak putra putri anda untuk datang menikmati berbagai wahana di Dunia Fantasi (DUFAN), yang merupakan taman hiburan outdoor terbesar di Indonesia.Belum puas! Anda juga bisa berkunjung ke Atlantis Water Adventure, Gelanggan Samudera hingga sea world, dijamin anda bakalan puas berkunjung ke Taman Impian Jaya Ancol ini.

3. Kepulauan Seribu

Tempat wisata alam di Jakarta yang wajib anda kunjungi karena objek wisata ini memang terkenal hingga ke mancanegara.Secara administrasi, Kepulauan Seribu ini masuk ke dalam Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta) dan lokasi Kepulauan seribu ini berhadapan langsung dengan teluk Jakarta.Namanya sih Kepulauan Seribu namun pulau yang ada di sini jumlahnya tidak sampai 1000, tepatnya hanya ada sekitar 110 pulau.

Dari 110 pulau ini hanya sekitar 12 pulau yang sering dijadikan sebagai destinasi wisata, seperti pulau tidung, pulau semak daun, pulau bira, pulau pari, pulau harapan, pulau bidadari, pulau pramuka, pulau ayer, pulau kotok, pulau putri, pulau sepa dan pulau pentara.Sisanya merupakan pulau-pulau pasir, karang dan juga pulau yang tidak berpenghuni.Tertarik mengunjungi salah satu pulau tersebut?

4. Taman Suropati

Bagi anda yang tinggal di Ibukota Jakarta sepertinya tidak perlu pusing lagi mencari tempat berakhir pekan apalagi sampai keluar daerah mencari destinasi wisata.Karena di Jakarta pun sudah begitu banyak tempat wisata yang bisa anda jelajahi, salah satunya Taman Suropati.Objek wisata alam ini sebenarnya tidak alami amat karena terjadi bukan di sebabkan oleh alam namun karena objek wisata ini berada di alam bebas maka Taman Suropati ini kami anggap layak masuk dalam kategori tempat wisata alam di Jakarta yang wajib dikunjungi.

Sedikit informasi untuk anda, awalnya taman ini bernama G.J Bisshop, nama ini diambil dari nama walikota Batavia (Jakarta) masa lalu namun di ganti menjadi Taman Suropati.Letaknya yang strategis karena berada di pusat kawasan Menteng membuat taman ini begitu rame dikunjungi pada hari-hari biasa maupun di akhir pekan.

Banyak hal yang bisa anda lakukan di sini, mulai dari jalan santai, joging, hingga rekreasi. Suasanya yang nyaman dan alam sekitarnya yang asri membuat orang betah berlama-lama di sini.Tak hanya itu, keberadaan Taman Suropati ini juga sangat penting terutama bagi negara ASEAN karena di taman ini ada beberapa monumen dari negara-negara ASEAN yang kelestariannya di jaga oleh Dinas Pertamanan DKI Jakarta.

Info Wisata Malam

wisata-malam-di-jakartaPada Mei 1998, terjadi kerusuhan di Jakarta yang memakan korban banyak etnis Tionghoa. Gedung MPR/DPR diduduki oleh para mahasiswa yang menginginkan reformasi. Buntut kerusuhan ini adalah turunnya Presiden Soeharto dari kursi kepresidenan.

Jakarta merupakan kota metropolitan yang selalu disibukan dengan berbagai aktifitas pada malam harinya, konon kota ini tiada ruang hampa akibat interaksi diberbagai setiap sudut kota yang dilakukan warganya. Bagi sahabat Direktori Wisata yang akan mencari hiburan malam hari untuk menikmati suasana Ibukota Jakarta, kita dapat mengunjungi beberapa objek wisata unik Jakarta yang menjadi tempat nongkrong asik untuk melepas lelah di malam hari di beberapa tempat wisata malam di sekitar Jakarta.

Berikut daftar tempat wisata unik sekitar Jakarta yang lagi hits dan ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancangera malam hari versi Direktori Wisata Indonesia.

1. Monas Malam Hari

Tugu Monumen Nasional merupakan salah satu tugu peringatan semangat rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan. tugu ini juga merupakan ikon kebanggaan milik bangsa Indonesia. Tidak heran jika salah satu kawasan destinasi wisata unik di jakarta ini selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara, yang menjadi primadona objek wisata unik di Jakarta salah satunya adalah Tugu Monas.

Sejak mulai diperlakukan pada saat 5 April 2016 lalu untuk wisata Malam di Puncak Tugu Monas, animo masyarakat untuk melihat panorama wisata malam Kota Jakarta dari atas puncak tugu Monumen Nasional ( Monas) yang diresmikan pada tahun 1975 tersebut pada malam hari terbilang cukup tinggi hingga sekarang ini.

Untuk bisa menikmati wisata malam di pucak Monas, kita bisa berkunjung mulai dari pukul 19.00 hingga 22.00 WIB. Dan untuk tiket masuk Monas malam hari untuk menuju puncak Monas kita dikenakan biaya Rp. 10. 000, / orang dan untuk anak harga tiket masuknya Rp. 2.000,- / orang.

Setelah naik lift kita akan merasakan sesasi suasana destinasi unik di jakarta pada malam hari. Bukan hanya itu, pemandangan Jakarta malam hari dari ketinggian lebih dari 100 meter tersebut mejadi salah satu daya tarik utama objek wisata unik jakarta dari puncak ketinggian tugu Monas.

2. RPTRA Kalijodo Jakarta

Objek wisata unik di Jakarta Kalijodo ini konon sebagain orang menggaggap sudah ada sejak tahun 50-an dan menjadi tempat berkumpulnya muda-mudi anak Jakarta, bahkan banyak juga warga yang menemukan jodohnya di tempat ini. Namun pada tahun 1970-an Kalijodo dijadikan tempat pergaulan tidak baik yang ada di jakarta, namun sekarang ini Kalijodo sduah berubah menjadi ruang interaksi yang positif bagi warga DKI Jakarta.

Tempat wisata unik di jakarta yang lagi hits dan menjadi tempat berkumpulnya warga Jakarta di taman kota ini, siang dan malam hari selalu ramai dikunjungi warga. Hal ini dikarena di lokasi tersebut terdapat skatepark untuk para pecinta skatebord dan komunitas lainnya berkumpul dan berinteraksi.

3. Jalan Jaksa Jakarta

Tempat wisata yang unik di Jakarta itu biasanya mensiasati tempat bekas jajahan pada jaman dahulu, seperti halnya pada kawasan Jalan Jakasa yang berada di jantung pusat Jakarta pada masa kolonial dijadikan sebagai tempat berkumpulnya para mahasiswa sekolah hukum Belanda.

Dan pada kenyataan pada saat ini daerah kawasan Jalan Jakasa di Jakarta Pusat dijadikan sebagai salah satu sejarah bagi pariwisata turis asing, karena hingga saat ini walau tidak seramai dulu para turis asing masih menikmati berbagai hiburan yang berada di sisi kiri maupun sisi kanan sepanjang Jalan Jaksa.

Kehidupan di Ibukota jakarta pada malam hari itu memang berwarna dan banyak sekali yang dapat kita kulik di kota ini, bahkan di setiap tempat wisata unik jakarta yang lagi hits itu punya cerita banyak. Dan tentu saja bagi kita yang penasaran dengan

4. Kota Tua

Tidak hanya ramai di siang dan sore hari, Kota Tua Jakarta juga tetap ramai dikunjungi pada malam hari. Tempat wisata ini sering menjadi obyek foto oleh fotografer pemula ataupun profesional karena bentuk bangunan yang ada disini bergaya Eropa klasik.

Kota Tua pada malam hari masih sangat ramai dikunjungi warga Jakarta dan juga luar kota, dari segala usia, mulai anak-anak, muda-mudi, hingga orang tua.

Banyak pula pedagang yang membuka lapak di sini, dengan menjajakan makanan dan minuman, aksesoris, mainan anak, hingga jasa pijat untuk wisatawan yang kelelahan.

5. Planetarium

Bukankah Planetarium adalah tempat untuk belajar tata surya bagi anak-anak? Sejatinya, Planetarium adalah tempat yang bisa dikunjungi oleh berbagai macam orang dari segala usia. Jika Anda ingin mengajak pasangan untuk berkunjung ke tempat romantis di Jakarta yang berbeda dari yang lain, ajak saja pasangan ke Planetarium.

Di sini, biasanya diputar film yang menayangkan keindahan bintang-bintang dan benda langit lainnya. Karena di Jakarta sudah semakin susah menemukan tempat untuk melihat bintang dengan sangat jelas, maka Anda bisa mengajak pasangan untuk bersama-sama memandang bintang yang tak kalah indahnya di Planetarium ini. Harga tiket masuknya pun cukup murah dan tidak akan menguras isi dompet Anda.

6. Taman Ismail Marzuki

Taman Ismail Marzuki (TIM) merupakan Pusat Kesenian Jakarta, yang berlokasi di Jl Cikini Raya, 73, Jakarta Pusat. Di tempat ini terdapat Institut Kesenian Jakarta, Planetarium, Gedung Teater, Galeri, Gedung Arsip, dan Bioskop.

Sebagai Pusat Kesenian, TIM sering menggelar berbagai pentas seni dan kebudayaan, seperti teater, tari, konser musik, serta beragam pameran seni lukis, patung, dan fotografi.

Beragam aktifitas di TIM justru lebih banyak diadakan di malam hari, sehingga tempat ini lebih meriah di saat malam. Ramainya TIM pada malam hari bisa dilihat mulai dari pelataran depan, yang biasa dipenuhi oleh anak-anak muda, dan banyak pedagang makanan.

7. Kanal Banjir Timur

Sebagaimana namanya, Kanal Banjir Timur (KBT) berfungsi sebagai pengendali atau pencegah banjir di wilayah Jakarta Timur. Pada siang hari, kawasan ini terlihat sepi dan hanya terlihat sejumlah pengendara sepeda motor yang melintas di pinggir jalan sepanjang kanal. Namun saat hari mulai gelap, kawasan ini berubah menjadi pasar malam. Banyak pedagang makanan dan aksesoris yang menggelar lapaknya dan mulai berjualan.

Saat malam menjelang, KBT justru padat pengunjung, jalanan susah dilalui karena sesaknya pengunjung dan pengendara sepeda motor yang parkir sembarangan.

Info Budaya & Sejarah

budaya-dan-sejarah-jakartaNama Jakarta sudah digunakan sejak masa pendudukan Jepang tahun 1942, untuk menyebut wilayah bekas Gemeente Batavia yang diresmikan pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1905. Nama ini dianggap sebagai kependekan dari kata Jayakarta (Dewanagari जयकृत), yang diberikan oleh orang-orang Demak dan Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah (Faletehan) setelah menyerang dan menduduki pelabuhan Sunda Kelapa pada tanggal 22 Juni 1527. Nama ini biasanya diterjemahkan sebagai "kota kemenangan" atau "kota kejayaan", namun sejatinya berarti "kemenangan yang diraih oleh sebuah perbuatan atau usaha".

Bentuk lain ejaan nama kota ini telah sejak lama digunakan. Sejarawan Portugis, João de Barros, dalam Décadas da Ásia (1553) menyebutkan keberadaan "Xacatara dengan nama lain Caravam (Karawang)". Sebuah dokumen (piagam) dari Banten (k. 1600) yang dibaca ahli epigrafi Van der Tuuk juga telah menyebut istilah wong Jaketra, demikian pula nama Jaketra juga disebutkan dalam surat-surat Sultan Banten dan Sajarah Banten (pupuh 45 dan 47)[ sebagaimana diteliti Hoessein Djajadiningrat. Laporan Cornelis de Houtman tahun 1596 menyebut Pangeran Wijayakrama sebagai koning van Jacatra (raja Jakarta).

Sunda Kelapa (397–1527)

Jakarta pertama kali dikenal sebagai salah satu pelabuhan Kerajaan Sunda yang bernama Sunda Kalapa, berlokasi di muara Sungai Ciliwung. Ibu kota Kerajaan Sunda yang dikenal sebagai Dayeuh Pakuan Padjadjaran atau Pajajaran (sekarang Bogor) dapat ditempuh dari pelabuhan Sunda Kalapa selama dua hari perjalanan. Menurut sumber Portugis, Sunda Kalapa merupakan salah satu pelabuhan yang dimiliki Kerajaan Sunda selain pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tamgara dan Cimanuk. Sunda Kalapa yang dalam teks ini disebut Kalapa dianggap pelabuhan yang terpenting karena dapat ditempuh dari ibu kota kerajaan yang disebut dengan nama Dayo (dalam bahasa Sunda modern: dayeuh yang berarti "ibu kota") dalam tempo dua hari. Kerajaan Sunda sendiri merupakan kelanjutan dari Kerajaan Tarumanagara pada abad ke-5 sehingga pelabuhan ini diperkirakan telah ada sejak abad ke-5 dan diperkirakan merupakan ibu kota Tarumanagara yang disebut Sundapura.

Pada abad ke-12, pelabuhan ini dikenal sebagai pelabuhan lada yang sibuk. Kapal-kapal asing yang berasal dari Tiongkok, Jepang, India Selatan, dan Timur Tengah sudah berlabuh di pelabuhan ini membawa barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, kain, wangi-wangian, kuda, anggur, dan zat warna untuk ditukar dengan rempah-rempah yang menjadi komoditas dagang saat itu.

Jayakarta (1527–1619)

Bangsa Portugis merupakan Bangsa Eropa pertama yang datang ke Jakarta. Pada abad ke-16, Surawisesa, raja Sunda meminta bantuan Portugis yang ada di Malaka untuk mendirikan benteng di Sunda Kelapa sebagai perlindungan dari kemungkinan serangan Cirebon yang akan memisahkan diri dari Kerajaan Sunda. Upaya permintaan bantuan Surawisesa kepada Portugis di Malaka tersebut diabadikan oleh orang Sunda dalam cerita pantun seloka Mundinglaya Dikusumah, di mana Surawisesa diselokakan dengan nama gelarnya yaitu Mundinglaya. Namun sebelum pendirian benteng tersebut terlaksana, Cirebon yang dibantu Demak langsung menyerang pelabuhan tersebut. Orang Sunda menyebut peristiwa ini tragedi, karena penyerangan tersebut membungihanguskan kota pelabuhan tersebut dan membunuh banyak rakyat Sunda di sana termasuk syahbandar pelabuhan. Penetapan hari jadi Jakarta tanggal 22 Juni oleh Sudiro, wali kota Jakarta, pada tahun 1956 adalah berdasarkan tragedi pendudukan pelabuhan Sunda Kalapa oleh Fatahillah pada tahun 1527. Fatahillah mengganti nama kota tersebut menjadi Jayakarta yang berarti "kota kemenangan". Selanjutnya Sunan Gunung Jati dari Kesultanan Cirebon, menyerahkan pemerintahan di Jayakarta kepada putranya yaitu Maulana Hasanuddin dari Banten yang menjadi sultan di Kesultanan Banten.

Batavia (1619–1942)

Belanda datang ke Jayakarta sekitar akhir abad ke-16, setelah singgah di Banten pada tahun 1596. Jayakarta pada awal abad ke-17 diperintah oleh Pangeran Jayakarta, salah seorang kerabat Kesultanan Banten. Pada 1619, VOC dipimpin oleh Jan Pieterszoon Coen menduduki Jayakarta setelah mengalahkan pasukan Kesultanan Banten dan kemudian mengubah namanya menjadi Batavia. Selama kolonialisasi Belanda, Batavia berkembang menjadi kota yang besar dan penting. (Lihat Batavia). Untuk pembangunan kota, Belanda banyak mengimpor budak-budak sebagai pekerja. Kebanyakan dari mereka berasal dari Bali, Sulawesi, Maluku, Tiongkok, dan pesisir Malabar, India. Sebagian berpendapat bahwa mereka inilah yang kemudian membentuk komunitas yang dikenal dengan nama suku Betawi. Waktu itu luas Batavia hanya mencakup daerah yang saat ini dikenal sebagai Kota Tua di Jakarta Utara. Sebelum kedatangan para budak tersebut, sudah ada masyarakat Sunda yang tinggal di wilayah Jayakarta seperti masyarakat Jatinegara Kaum. Sedangkan suku-suku dari etnis pendatang, pada zaman kolinialisme Belanda, membentuk wilayah komunitasnya masing-masing. Maka di Jakarta ada wilayah-wilayah bekas komunitas itu seperti Pecinan, Pekojan, Kampung Melayu, Kampung Bandan, Kampung Ambon, Kampung Bali, dan Manggarai.

Pada tanggal 9 Oktober 1740, terjadi kerusuhan di Batavia dengan terbunuhnya 5.000 orang Tionghoa. Dengan terjadinya kerusuhan ini, banyak orang Tionghoa yang lari ke luar kota dan melakukan perlawanan terhadap Belanda.[17] Dengan selesainya Koningsplein (Gambir) pada tahun 1818, Batavia berkembang ke arah selatan. Tanggal 1 April 1905 di Ibukota Batavia dibentuk dua kotapraja atau gemeente, yakni Gemeente Batavia dan Meester Cornelis. Tahun 1920, Belanda membangun kota taman Menteng, dan wilayah ini menjadi tempat baru bagi petinggi Belanda menggantikan Molenvliet di utara. Pada tahun 1935, Batavia dan Meester Cornelis (Jatinegara) telah terintegrasi menjadi sebuah wilayah Jakarta Raya.

Pada 1 Januari 1926 pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan peraturan untuk pembaharuan sistem desentralisasi dan dekonsentrasi yang lebih luas. Di Pulau Jawa dibentuk pemerintahan otonom provinsi. Provincie West Java adalah provinsi pertama yang dibentuk di wilayah Jawa yang diresmikan dengan surat keputusan tanggal 1 Januari 1926, dan diundangkan dalam Staatsblad (Lembaran Negara) 1926 No. 326, 1928 No. 27 jo No. 28, 1928 No. 438, dan 1932 No. 507. Batavia menjadi salah satu keresidenan dalam Provincie West Java disamping Banten, Buitenzorg (Bogor), Priangan, dan Cirebon.

Djakarta (ジャカルタ特別市, Jakaruta Tokubetsu Shi) (1942–1945)

Pendudukan oleh Jepang dimulai pada tahun 1942 dan mengganti nama Batavia menjadi Djakarta untuk menarik hati penduduk pada Perang Dunia II. Kota ini juga merupakan tempat dilangsungkannya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 dan diduduki Belanda sampai pengakuan kedaulatan tahun 1949.

Jakarta (1945-sekarang)

ejak kemerdekaan sampai sebelum tahun 1959, Djakarta merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat. Pada tahun 1959, status Kota Djakarta mengalami perubahan dari sebuah kotapraja di bawah wali kota ditingkatkan menjadi daerah tingkat satu (Dati I) yang dipimpin oleh gubernur. Yang menjadi gubernur pertama ialah Soemarno Sosroatmodjo, seorang dokter tentara. Pengangkatan Gubernur DKI waktu itu dilakukan langsung oleh Presiden Sukarno. Pada tahun 1961, status Djakarta diubah dari Daerah Tingkat Satu menjadi Daerah Khusus Ibukota (DKI) dan gubernurnya tetap dijabat oleh Sumarno.

Semenjak dinyatakan sebagai ibu kota, penduduk Jakarta melonjak sangat pesat akibat kebutuhan tenaga kerja kepemerintahan yang hampir semua terpusat di Jakarta. Dalam waktu 5 tahun penduduknya berlipat lebih dari dua kali. Berbagai kantung permukiman kelas menengah baru kemudian berkembang, seperti Kebayoran Baru, Cempaka Putih, Pulo Mas, Tebet, dan Pejompongan. Pusat-pusat permukiman juga banyak dibangun secara mandiri oleh berbagai kementerian dan institusi milik negara seperti Perum Perumnas.

Pada masa pemerintahan Soekarno, Jakarta melakukan pembangunan proyek besar, antara lain Gelora Bung Karno, Masjid Istiqlal, dan Monumen Nasional. Pada masa ini pula Poros Medan Merdeka-Thamrin-Sudirman mulai dikembangkan sebagai pusat bisnis kota, menggantikan poros Medan Merdeka-Senen-Salemba-Jatinegara. Pusat permukiman besar pertama yang dibuat oleh pihak pengembang swasta adalah Pondok Indah (oleh PT Pembangunan Jaya) pada akhir dekade 1970-an di wilayah Jakarta Selatan.

Laju perkembangan penduduk ini pernah coba ditekan oleh gubernur Ali Sadikin pada awal 1970-an dengan menyatakan Jakarta sebagai "kota tertutup" bagi pendatang. Kebijakan ini tidak bisa berjalan dan dilupakan pada masa-masa kepemimpinan gubernur selanjutnya. Hingga saat ini, Jakarta masih harus bergelut dengan masalah-masalah yang terjadi akibat kepadatan penduduk, seperti banjir, kemacetan, serta kekurangan alat transportasi umum yang memadai.

Pada Mei 1998, terjadi kerusuhan di Jakarta yang memakan korban banyak etnis Tionghoa. Gedung MPR/DPR diduduki oleh para mahasiswa yang menginginkan reformasi. Buntut kerusuhan ini adalah turunnya Presiden Soeharto dari kursi kepresidenan.

Paket Wisata Jakarta - Bandung - Yogyakarta 6 Hari 5 Malam

Paket Wisata Jakarta - Bandung - Yogyakarta 6 Hari 5 Malam

Jakarta, Bandung, Yogyakarta
Mulai Dari: Rp 2.050.000
Berwisata ke Destinasi yang ada di Jakarta, Bandung atau Yogyakarta merupakan salah satu cara untuk Detail ⇛
Paket Wisata Jakarta - Bandung 5 Hari 4 Malam

Paket Wisata Jakarta - Bandung 5 Hari 4 Malam

Jakarta, Bandung
Mulai Dari: Rp 1.400.000
Berwisata ke Destinasi yang ada di Jakarta atau di Bandung merupakan salah satu cara untuk melepas p Detail ⇛
Paket Wisata Jakarta 3 Hari 2 Malam

Paket Wisata Jakarta 3 Hari 2 Malam

Jakarta
Mulai Dari: Rp 1.055.000
Nikmati Paket Wisata Jakarta 3 Hari 2 Malam kami, dikhususkan bagi kalian yang ingin mengenal DKI Ja Detail ⇛
Paket Wisata Jakarta, Bandung, Yogyakarta & Bali

Paket Wisata Jakarta, Bandung, Yogyakarta & Bali

Jakarta, Bandung, Bali, Yogyakarta10 / 10
Mulai Dari: Rp 2.400.000
Paket Wisata Jakarta, Bandung, Yogyakarta & Bali 8 Hari!!! Adalah merupakan paket wisata terbaik Detail ⇛